Semarang Jadi Kota Pertama di Indonesia Gelar Residensi Penulis Prancis, Sastrawan Dunia Tinggal 3 Bulan

Pemerintah Kota Semarang bersama Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia memperkuat hubungan kebudayaan melalui kerja sama diplomasi sastra. Salah satu bentuk kolaborasi yang disiapkan ialah program residensi penulis yang mempertemukan sastrawan dari Semarang dan Prancis melalui skema pertukaran yang berlangsung secara timbal balik.

Program tersebut akan diawali dengan kehadiran penulis asal Prancis di Kota Semarang selama kurang lebih tiga bulan. Selama menjalani residensi, penulis akan tinggal di kawasan Kota Lama dan memperoleh kesempatan untuk mengenal secara langsung kehidupan sosial, budaya, sejarah, kuliner, serta berbagai karakter khas Kota Semarang. Pengalaman tersebut selanjutnya diharapkan menjadi bahan pengembangan karya sastra sekaligus sarana untuk memperkenalkan Semarang kepada pembaca internasional.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari hubungan kebudayaan yang sebelumnya telah dibangun oleh Pemerintah Kota Semarang dan Kedutaan Besar Prancis. Salah satu bentuk kolaborasi yang telah terlaksana adalah penyelenggaraan pameran mengenai penyair legendaris Prancis, Arthur Rimbaud, di Lawang Sewu. Setelah pameran tersebut, kedua pihak kini memperluas kerja sama melalui bidang residensi dan pertukaran penulis.

Penulis Prancis Louis-Philippe Dalembert dijadwalkan menjadi peserta awal program residensi. Selama berada di Semarang, ia akan menjelajahi sejumlah kawasan dan berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Hasil pengamatan dan pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi buku, karya sastra, maupun kegiatan kebudayaan yang melibatkan masyarakat setempat.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas diplomasi budaya antara Semarang dan Prancis. Menurutnya, rangkaian kegiatan yang telah dilakukan bersama Kedutaan Besar Prancis menunjukkan bahwa hubungan kedua pihak terus berkembang dari kegiatan pameran menuju pertukaran pengetahuan dan karya.

“Kehadiran Kedutaan Prancis di Semarang membawa berbagai kegiatan. Pertama pameran Arthur Rimbaud, seorang penyair fenomenal, dan yang kedua Semarang dan Prancis akan melakukan kerja sama pertukaran penulis,” ujar Agustina, Kamis (6/8/2026).

Agustina menjelaskan, Louis-Philippe Dalembert merupakan novelis, penyair, penulis cerpen, sekaligus esais yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa. Kehadiran penulis tersebut dinilai dapat membuka peluang promosi Semarang melalui karya sastra yang menjangkau pembaca di berbagai negara.

“Kehadiran penulis Prancis ini akan membawa dampak yang luar biasa. Dia akan tinggal di Kota Lama, menjelajahi Kota Semarang, lalu menuliskan pengalamannya dalam buku dan berbagai tulisan sehingga semakin banyak masyarakat berbahasa Prancis mengenal Semarang,” kata Agustina.

Menurut Agustina, pertukaran tersebut tidak dirancang sebagai program satu arah. Pemerintah Kota Semarang juga menginginkan adanya kesempatan bagi penulis yang memiliki keterkaitan dengan Semarang untuk menjalani residensi di Prancis. Dengan demikian, pertukaran karya dapat menjadi sarana bagi kedua pihak untuk memperkenalkan budaya masing-masing.

“Kami ingin program ini berjalan dua arah sehingga penulis dari Semarang juga memperoleh kesempatan tinggal di Prancis untuk berkarya sekaligus memperkenalkan budaya dan potensi Kota Semarang kepada masyarakat internasional,” ujar Agustina.

Selain residensi penulis, kerja sama kebudayaan Semarang dan Prancis juga diarahkan pada rencana keikutsertaan Kota Semarang dalam Simposium Sketsa Dunia di Paris pada 2027. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kebudayaan Semarang di tingkat internasional.

Duta Besar Prancis untuk Indonesia Fabien Penone menyampaikan bahwa Semarang menjadi kota pertama di Indonesia yang dipercaya menjalankan program residensi sastra bersama Pemerintah Prancis. Menurutnya, program tersebut sekaligus mencerminkan perkembangan hubungan kebudayaan yang telah terjalin antara kedua pihak.

“Pada awal September, seorang novelis, penyair, dan penulis ternama asal Prancis akan datang ke Semarang selama tiga bulan. Ini merupakan kali pertama kami meluncurkan program residensi sastra di Indonesia dan program ini bersifat timbal balik,” ungkap Fabien Penone.

Fabien menjelaskan bahwa pada awal 2027, seorang penulis Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Semarang direncanakan mengikuti program residensi di Villa Kotsy di Prancis. Tempat tersebut disebut sebagai pusat internasional bahasa Prancis yang menjadi ruang pertemuan bagi para penulis dari berbagai negara dan pernah diresmikan oleh Presiden Emmanuel Macron.

“Pada awal 2027 seorang penulis Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan Semarang akan menjalani residensi di Villa Kotsy di Prancis. Program ini kami rancang sebagai pertukaran sehingga manfaatnya dapat dirasakan kedua negara,” jelas Fabien.

Fabien meyakini diplomasi melalui sastra dapat memberikan pengaruh yang lebih luas terhadap hubungan kebudayaan, pariwisata, dan promosi daerah. Menurutnya, Semarang memiliki kekayaan warisan sejarah, keragaman kuliner, serta karakter perkotaan yang dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus daya tarik bagi masyarakat Prancis.

Dengan adanya residensi tersebut, interaksi antara penulis dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada proses penciptaan karya. Program ini juga berpotensi membangun ruang dialog lintas budaya dan memperkenalkan berbagai sisi Semarang melalui sudut pandang penulis asing. Dalam jangka panjang, karya yang lahir dari program tersebut diharapkan dapat memperkuat citra Semarang sebagai kota yang terbuka terhadap pertukaran budaya dan memiliki posisi dalam jejaring kebudayaan internasional.

Share this post

Share on Facebook Share on Twitter Share on LinkedIn Share on Pinterest Share on WhatsApp